Home Peristiwa Azerbaizan Tuding Armenia Tak Terbuka Terhadap Tahanan Perang

Azerbaizan Tuding Armenia Tak Terbuka Terhadap Tahanan Perang

Perang Eropa Timur bagian 2

SHARE
Azerbaizan Tuding Armenia Tak Terbuka Terhadap Tahanan Perang

Caption Gambar: Seorang warga Azerbaizan menunjukkan seorang keluarganya yang hilang karena perang saudara Azerbaizan Armenia, Senin (23/8/2021). (A. Fadilah-jakartatoday.co.id)

JAKARTATODAY.CO.ID, JAKARTA - Beragam upaya dilakukan Komisi Negara Azerbaizan dalam memulangkan warganya yang dilaporkan hilang atau menjadi tahanan perang. Upaya pengembalian warganya berjalan cukup alot. 

Terbukti, dalam upaya kerjasama dengan Komite Palang Merang Internasional atau International Committee of the Red Cross (ICRS). Pemerintah Azerbaizan belum dapat memulangkan ratusan warganya yang tersandera oleh militer Armenia. 

Terakhir, dari 54 tawanan perang dan sandera, enam diantaranya wanita yang terdaftar ICRS. Hanya 17 orang yang dikembalikan ke Azerbaijan. Sebanyak 12 dari mereka ditahan dan kemudian dibunuh di wilayah Armenia, terutama di Irak. Sementara 33 orang dilaporkan tewas, namun jasadnya tidak dikembalikan, dan nasib 4 orang lainnya tidak dilaporkan sama sekali. 

Menurut orang-orang yang dibebaskan dari penawanan Armenia. Mereka alami penyiksaan dan tersandera selama bertahun tahun. 

Kondisi ini tak lepas dari pihak Armenia yang seolah tak peduli dan terkesan menyembunyikan fakta tentang orang hilang. Padahal dalam catatan selama 25 tahun perang terjadi, ribuan orang telah bertumbangan. Armenia, oleh Pemerintah Azerbaizan, dinilai gagal memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional yang berlaku. 

BACA JUGA : Ratusan Warga Masih Hilang Sejak Invasi Armenia ke Azerbaizan Tahun 1990 Lalu

Meski demikian, Armenia menyangkal tanggung jawabnya atas agresi yang dilepaskannya dan atas penderitaan manusia yang tak terhitung jumlahnya. Mereka menuding dan menyebarkan kebencian dan ketakutan tentang Azerbaijan.

Seperti yang terjadi di kota Khojaly, Azerbaijan. Tercatat 613 penduduk Khojaly yang dibunuh oleh pasukan militer Armenia selama pendudukan Khojaly. Mereka terdiri dari 63  anak di bawah umur dan 106 adalah wanita.

Saat ini melalui ICRS, pendataan ulang terhadap penduduk Khojaly yang hilang dilakukan. Ada sekitar 196 orang tercatat, termasuk 36 anak-anak dan 65 wanita sejak informasi 1 Juli 2021 lalu.

Hasil penelusuran terungkap 95 orang termasuk 16 anak anak dan 22 wanita disandera di Khojaly oleh militer Armenia. Langkah-langkah tingkat nasional memperjelas nasib orang-orang yang hilang akibat konflik telah dilakukan dengan membuat daftar warga yang hilang untuk diserahkan ke Armenia dan ICRS. 

Database elektronik dibuat dengan mengumpulkan sampel DNA dari saudaran orang yang hilang. Di sana, sampel akan digunakan mengidentifikasi orang yang dikubur di kuburan massal dan tanpa nama. 

Tulisan bersifat opini dari penulis yang merupakan pemerhati perang

(A. Fadilah/jakartatoday.co.id)